Dari sekian bayak isterinya, seorang istri yang panjang
jodohnya mendapat dua orang anak. Yang tertua adalah laki-laki bernama bujang
nadi dan yang gadis bernama dare nandung. Tetapi kedua anak tadi ketika dewasa dikuburkannya
hidup-hidup di bukit sebadang. Sebab bagi tang nunggal ia tidak ingin melihat
perbuatan yang kurang baik terjadi di dalam kerjaannya.
Peraturan yang dijalankan tetap keras. Walaupun terhadap anak
yang kandungnya sekalipun. Cukuplah terbukti dari kesalahan bujang nadi dan
dare nandung karena ia harus mengalami
kadar buruk dari orang tuanya sendiri.
Memang kedua kakak beradik itu telah dianugerahi paras yang
indah menawan, sehingga masing-masing telah menyatakan bahwa si kakak tidak
akan kawin apabila orang tidak seperti adiknya begitu pulsa si adik tidak akan
bersuami, kalau suaminya itu tidak seperti kakaknya sendiri. Pernyataan isi
hati mereka ini rupanya telah didengar oleh hulu balang Raja sehingga
dilaporkan kepada ayahnya, Tang nunggal. Betapa berangnya tang nunggal, gemas
hatinya ketika terkenang perbuatan anaknya itu yang disangkanya telah berbuat
kurang baik, sehingga ketika waktu itu juga diperintahkannya agar kedua anaknya
itu ditangkap.
Walaupun bujukan serta ratap tangis dan dengan permohonan
yang berhiba yang dimintakan oleh anaknya itu bahwa bahwa mereka tidak pernah
melakukan perbuatan keji seperti apa
yang dituduhkan oleh ayahnya itu, namun tang nunggal tetap pada pendiriannya,
tetap pada keputusannya bahwa anaknya telah berdosa, telah mendurhaka oleh
karen itu mereka harus dihukum. Dan hukuman itu adalah agar mereka ditanam
hidup-hidup. Kemudian diperintahkannya kepada orang orang supaya menggali
lubang ditempat yang agak tinggi agar anaknya nanti jangan terendam oleh air.
Maka digalilah sebuah lobang yang agak dalam, yaitu di sebuah bukit bernama
sibadang, yang jauhnya kira-kira memakan dua hari perjalanan dengan menggunakan
sampan, dari tempat Ibu bujang nadi dan dare nandung berdomisili. Disanalah
kedua kakak beradik itu ditanam hidup-hidup, diberi barang-barang, makanan,
alat-alat tenun yang terbuat dari emas. Demikianlah perbuatan tang nunggal
menghukum anaknya sendiri, sehingga ia semakin ditakuti oleh sekian rakyatnya.
Sampai sekarang bukit tersebut dinamakan Dare nandung atau gunung sibadang.
Pernah di zaman belanda dan jepang tempo dulu dicoba untuk
menggali tempat dimana kedua anak itu ditanam guna mengambil barang-barang alat
tenun yang terbuat dari emas tersebut, tetapi baru sekali dua cangkul, tanah
yang digali itu tertutup seakan-akan tidak memberi kesempatan kepada manusi
untuk mengambilnya.
Dan kadang-kadang
orang mendengar suara kokok ayam yang berderai-derai dari dalam bukit itu atau
bunyi “gemerentung” alat tenunu pada malam hari. Seakan memberi tanda tanya
kepada penduduk setempat, benarkah ayam yang berkokok itu kepunyaan bujang nadi
yang dibawanya bersama ketika akan ditanam dan “gemerentung” bunyi alat tenun
itu kepunyaan Dare Nandung?
Konon, yang punya cerita menceritakan bahwa tang nunggal
menguburkan anaknya hidup-hidup itu menimbulkan rasa penyesalannya, ia banyak
bermenung diri dan selalu “nyap-nyap”, tidak karuan serta selalu “ngangat”,
cepat marah, seolah darahnya mendidih tidak bisa menahan diri. Bisa dikatakan
tidak boleh tersenggol sedikit, marahnya menjadi-jadi. Kadangkala seolah
mengeluarkan api, siapa yang dekat, pasti kenasembur, walaupun tidak berbuat
kesalahan, bahkan isterinya sendiri tidak luput dari kemarahannya, sambil
makan, sambil apapun , ia marah. Tengah malam, subuh dini hari, pokoknya tidak
nyaman di hatinya ia pun marah.
Baca lanjutannya : Awal mula Tang Nunggal Mulai menyukai
minum darah
Tang Nunggal Mulai menyukai minum darah
Pada suatu ketika isterinya mulai ngidam lagi, yaitu anaknya
yang ketiga setelah bujang nadi dare nandung, ingin memakan rujak dari buah
asam bacang. Lalu diirisnya kecil-kecil seperti irisan untuk kerabu asam dicampur cabe peranggi, garam dan gula secukupnya,
yang diberi santan lalu diaduk dengan irisan tadi. Belum selesai ia mengiris
bacang tersebut, tang nunggal pun
memangggilnya karena sedang marah. Dengan terburu-buru isterinya mengiris asam
bacang tadi, sehingga terpotong ujung jari kirinya berikut kukunya, dan
darahnya pun keluar dengan tidak terhingga banyaknya menumpahi asam bacang
tadi.
Tang Nunggal pergi ke dapur, karena isterinya belum muncul,
sambil marah mendekati isterinya yang sedang membuat rujak tersebut, lalu ia
pun tertarik untuk mencoba. Tang nunggal pun ikut makan rujak dengan lahapnya
sambil berteriak “nyama-nyaman”
sambil tertawa terbahak-bahak. Ia bertanya siapa yang membuatnya. Marahnya pun
hilang dan sore harinya ia minta dibuatkan lagi katanya supaya marahnya hilang,
namun semalam-malaman marahnya tidak kunjung reda karena yang membuat rujak
tidak menggunakan darah manusia, karen dibuat oleh dayang-dayang saja. Kemudian
isterinya besok pagi membuat rujak, tentunya dengan darah luka bekas mengiris
kemarin. Isterinya pun bersedih, karen tang nunggal sudah mulai makan darah
manusia, dasar hantu laut, celetuk isterinya.
Berkali-kali tang nunggal minta dibuatkan rujak tersebut,
setiap kali membuat rujak tentunya darah isterinya diperas sehingga ia menjadi
kurus kering, disamping itu juga ia sedang hamil tua, serta pikirannya dipenuhi
oleh bayangan-bayangan yang akan terjadi kemudian, yaitu bencana yang lebih
besar. Tang nunggal sudah mulai menghisap darah dari giginya yang mulai tumbuh
semakin panjang, yaitu pada bagian
taringnya. Matanya mulai merah bagaikan biji saga. Hal inipun diketahui
oleh penjaga istana dayang pengasuh. Habis darah isterinya lalu darah
dayang-dayang. Satu demi satu dayangnya mati kehabisan darah. Menteri serta
para pengawal istana berkeluh kesah. Hal
ini masih dirahasikan karena permaisuri masih dalam keadaan mengandung.
Beberapa orang isterinya menyarankan ia
untk berhenti minum darah, tapi tang nunggal menegaskan bahwa hal itu ia
lakukan supaya ia tidak cepat marah. Isterinya pun merasa sedih, ia raja yang
kejam, mengubur anaknya hidup-hidup dan kini menghisap darah manusia. Dengan
kesedihan itu genaplah usia mengandung sang permaisuri selama sembilan sepuluh
hari, maka lahirlah sang bayi dan ibunya meninggal dan Lahirlah Tok kullub.
Kisah hidup Datuk kullub (klik disini)
Kisah hidup Datok kullub.
Tok kullub merupakan anak dari tan nunggal. saat ia lahir ibunya
sang permaisuri meninggal dan ia lahir tanpa ibu maka ia diasuh oleh dayang
istana. Beberapa tahun berselang anak
itupun mulai tumbuh besar dan keinginannya untuk disunat pun dikabulkan.
Beberapa orang bilal (tukang sunat) membawa pisau untuk mengkhitan anak tadi namun tidak mampu melakukannya
sebab ternyata kullub si anak yang ingin dipotong tersebut tidak mempan oleh pisau
yang sangat tajam sekalipun. Akhirnya ada yang menggunakan parang, kelewang,
dan bahkan kapak, yang ujung zakarnya (kullup) diletakkan diatas bendul yang terbuat dari kayu besi
(belian). Namun demikian, usaha bilal semuanya gagal sebab ternyata anak itu
kebal terhadap benda tajam.
Maka berita tersebut tersebar ke seluruh masyarakat. Anehnya
lagi, anak tang nunggal belum punya nama. Langsung dipanggil oleh rakyat dan
diberi pangkat atau dijuluki datok kullub. Kalau ia mendengan panggilan
tersebut tentu ia berang. Oleh karen itu ia tidak mau keluar rumah, karena malu
kepada orang-orang. Dengan demikian dibuatkanlah untuknya sebuah taman yang
indah. Setiap pagi ia suka sekali bermain disana sambil menghirup kesegaran
udara pagi serta selalu mendengarkan suara burung piaraan, yaitu burung ruai dan diantaran burung tersebut ada pula
burung yang suaranya, “kullub-kullub”, seolah meledeknya. Dengan tidak pikir
panjang ia berusaha mengejar burung tersebut untuk ditangkap hingga sampailah
ia di bukit Piantus.
Konon ceritanya jalan yang dilaluinya ketika menghalau burung
itu menjadi sungai, seperti yang terdapat di dekat bukit piantus si jangkung.
Datuk kullub ini postur tubuhnya kekar dan tegap tingginya melebihi ayahnya
tang nunggal. giginya lengkap sebagaimana gigi kebanyakan orang, akan tetapi
tinggi tubuhnya luar biasa, kurang lebih 2,48 meter dan mempunyai ukuran kaki
49 inci, oleh sebab itu ia tidak mau kembali ke istana dan lebih senang tinggal
di bukit piantus si jangkung dan hingga sekarang bekas kening (jidat) nya masih
dapat disaksikan. Bekas tersebut merupakan bekas beliau sujud shalat, tetap
menghadap kiblat, dan beliau wafat disana dan dikuburkan di sana pula. Hingga
sekarang kuburannya masih dapat kita saksikan.
Penulis : H. Uray Djalaloeddin Yusuf Dato Ronggo
0 Response to "Cerita Tan Nunggal Mengubur anaknya sendiri"
Posting Komentar