Sultan Sambas awalnya bernama Raden Sulaiman,
untuk menghindarkan dirinya dari keruncingan pertentangan yang dihadapinya
(baca kisah keruncingan tersebut klik disini) dengan pangeran Aria mangkurat terpaksa meninggalkan Ibu Negeri Sambas, bersama
dengan keluarganya kiyai Jaka Sari dan para pengikutnya yang setia. Mereka tiba
disuatu tempat yang subur tanahnya, cocok untuk pertanian, segala rerumputan
yang tebal di tebas hingga lapang, ternyata terlalu becek dan airnya asin kalau
musim kemarau. Maka diputuskan untuk lebih kehulu lagi yang airnya tidak payau.
Lalu segala peralatan Raja, menuju ke hulu yaitu hulu sungai Sambas kecil. Yang
tadinya di tebas lalu ditinggalkan, hanya ditebas saja. Maka tempat itu hingga
kini dinamai Tebas. Karena setelah ditebas tadi demikianlah yang empunya cerita
menceritakannya.
Cabang dari pertemuan tiga buah
sungai, yaitu hulu sungai tibarrau yang disebut orang muara ulakkan. Dengan
persetujuan keluarga dan pengikutnya, disebelah timur muara ulakkan didirikan
tempat kediaman yang baru. Setelah tersiarnya berita bahwa raden Sulaiman
sekeluarga berada di tepi muara ulakkan, maka rakyatpun turun berduyun duyun
kesana turut pindah dimana raden Sulaiman berdiam bersama keluarganya.
Dari hari ke hari tempet
tersebut menjadi penuh oleh penduduk yang mendiaminya, sebagian besar adalah
mereka yang menganut agama Islam, sedangkan kota Sambas yang lama semakin
lengang ditinggalkan penghuninya. Dan saat itu pula rakit-rakit yang beratap
rumbia akhirnya menjadi lanting. Kemudian atas mufakat keluarga raden Sulaiman,
kiyai dan petinggi, Tua ‘Mama’,
pengerah-pengerah, sida-sida, sukelwa jaga dan para pendekar dan para pakar
Negeri, maka raden Sulaiman dinobatkan menjadi Sultan Sambas. Dengan pangkat
dan gelar Sultan Mohammad Syafi’uddin I (Sultan Pertama). Sedang saudaranya yaitu
raden Abdul Wahhab dan raden Baha’uddin masing-masing diangkat menjadi Wazir
dengan gelar pangeran bendahara Sri Maharaja dan pangeran Temunggung
Jayakesuma. Enam bulan kemudian yaitu pada tangga 5 Oktober 1584, Sultan
Mohammad Syafi’uddin mengutus puteranya Raden Bima pergi berlayar ke Sukadana,
dimaksudkan untuk menjelang kaum keluarganya disana yaitu keluarga dari pihak
ibundanya yaitu Ratu Suryakusuma. Kedatangan raden Bima ini di Negeri Sukadana
disambut dengan meriah sekali.
Upacara adat kebesaran Raja-raja diadakan, kepala pemerintahan Sukadana pada waktu itu ialah Sultan Zainuddin merasa bangga bahwa hubungan antara kerajaan berunai, Sukadana, dan Sambas bertambah erat. Kemudian atas persetujuan kedua belah pihak, maka dikawinkanlah raden Bima dengan saudara bungsu sultan Zainuddin bernama Puteri Indrakusuma. Dari perkawinan tersebut raden Bima mendapat seorang putera yang dinamainya raden Meliau (Mulia) karena puterinya dilahirkan dalam kandungan sungai Meliau, sungai kenamaan di Sukadana. Setelah puteranya agak besar, raden Bima lalu pulang kembali ke Sambas dengan kebesarannya, beliau ditaburi dengan beras kuning berbaka-baka menurut adat, si tunggul warna kuning pun dipasang di setiap persimpangan/seleko yang menuju Istana. Dilaut dan di darat, di lanting segala raba-raba dan uras sungai/laut dan kumpai, galli harus dibersihkan. Segala lumpur laut/sungai tidak boleh kelihatannya. Inilah peraturan rakyat Sambas untuk menghormati tamu raja-raja.
Mulai hari itu pula bendera kuning polos berkibar diseluruh rumah rakyat dan di sepanjang istana pun didirikan tiang bendera setinggi 17 meter lurus menjulang tinggi yang terbuat dari batang kayu Imbarris yang dipersembahkan oleh Sing Dayak Sukung, yang bernama Malan, sejak hari itu pulalah diumumkan dan ditetapkan bahwa Kerajaan Sambas berbendera KUNING seluruhnya dan sejak itu pulalah orang Sambas mengenal lambang Kerajaannya yang dipasang di sepanjang Istana binatang laut yang disebut UNDUK-UNDUK, atau ikan Elang laut, atau mirip kuda laut dan bersamaan dengan lambang pertamina. Rumah peranginan di depan muara ulakkan yang dibuat dari kayu belian (Kayu besi) keseluruhannya berbentuk persegi delapan artinya menandakan rakyat dan Raja-raja berasal dari laut dan dari delapan penjuru angin (Segi delapan) atau delapan suku bangsa. Tetapi raden Bima tidak lama berada di Sambas. Beberapa bulan kemudian ia berada di Sambas setelah kembali dari Sukadana, istirahat di Istana, Oleh baginda Ayahanda diperintahkan lagi pergi berlayar ke Berunai sebagai lanjutan dari utusan ke Sukadana tempo hari. Dan kunjungan ke Berunai kali ini adalah untuk mengunjungi keluarga Sultan dari pihak Ayahanda Baginda Raja, yaitu Raja Tengah. Oleh dipertuan Berunai atas kedatangan raden Bima tersebut disambut dan dibesarkan menurut adat kebesaran Raja-raja. Sebagai kebesaran pula menurut adat, dinobatkanlah raden Bima menjadi Sultan Sambas dengan gelar Sultan Mohammad Tadjuddin itupun bermohon diri untuk pulang ke Sambas sebab waktu sudah cukup lama dirasakan berada di Negeri Berunai tersebut atau sudah rasa rindu.
Upacara adat kebesaran Raja-raja diadakan, kepala pemerintahan Sukadana pada waktu itu ialah Sultan Zainuddin merasa bangga bahwa hubungan antara kerajaan berunai, Sukadana, dan Sambas bertambah erat. Kemudian atas persetujuan kedua belah pihak, maka dikawinkanlah raden Bima dengan saudara bungsu sultan Zainuddin bernama Puteri Indrakusuma. Dari perkawinan tersebut raden Bima mendapat seorang putera yang dinamainya raden Meliau (Mulia) karena puterinya dilahirkan dalam kandungan sungai Meliau, sungai kenamaan di Sukadana. Setelah puteranya agak besar, raden Bima lalu pulang kembali ke Sambas dengan kebesarannya, beliau ditaburi dengan beras kuning berbaka-baka menurut adat, si tunggul warna kuning pun dipasang di setiap persimpangan/seleko yang menuju Istana. Dilaut dan di darat, di lanting segala raba-raba dan uras sungai/laut dan kumpai, galli harus dibersihkan. Segala lumpur laut/sungai tidak boleh kelihatannya. Inilah peraturan rakyat Sambas untuk menghormati tamu raja-raja.
Mulai hari itu pula bendera kuning polos berkibar diseluruh rumah rakyat dan di sepanjang istana pun didirikan tiang bendera setinggi 17 meter lurus menjulang tinggi yang terbuat dari batang kayu Imbarris yang dipersembahkan oleh Sing Dayak Sukung, yang bernama Malan, sejak hari itu pulalah diumumkan dan ditetapkan bahwa Kerajaan Sambas berbendera KUNING seluruhnya dan sejak itu pulalah orang Sambas mengenal lambang Kerajaannya yang dipasang di sepanjang Istana binatang laut yang disebut UNDUK-UNDUK, atau ikan Elang laut, atau mirip kuda laut dan bersamaan dengan lambang pertamina. Rumah peranginan di depan muara ulakkan yang dibuat dari kayu belian (Kayu besi) keseluruhannya berbentuk persegi delapan artinya menandakan rakyat dan Raja-raja berasal dari laut dan dari delapan penjuru angin (Segi delapan) atau delapan suku bangsa. Tetapi raden Bima tidak lama berada di Sambas. Beberapa bulan kemudian ia berada di Sambas setelah kembali dari Sukadana, istirahat di Istana, Oleh baginda Ayahanda diperintahkan lagi pergi berlayar ke Berunai sebagai lanjutan dari utusan ke Sukadana tempo hari. Dan kunjungan ke Berunai kali ini adalah untuk mengunjungi keluarga Sultan dari pihak Ayahanda Baginda Raja, yaitu Raja Tengah. Oleh dipertuan Berunai atas kedatangan raden Bima tersebut disambut dan dibesarkan menurut adat kebesaran Raja-raja. Sebagai kebesaran pula menurut adat, dinobatkanlah raden Bima menjadi Sultan Sambas dengan gelar Sultan Mohammad Tadjuddin itupun bermohon diri untuk pulang ke Sambas sebab waktu sudah cukup lama dirasakan berada di Negeri Berunai tersebut atau sudah rasa rindu.
Ketika pulang, banyak anugerah
yang diperoleh dari dipertuan Berunai yaitu beberapa barang alat barang
kebesaran kerajaan Berunai seperti payung keemasan, payung ubur-ubur,
unggul-unggul, tobak canggah keris berhulukan batu jambrut, firus, permata blue
safir, parang baduk, mandau, code’, tempat dian, aphar, getar dan puan,
pundi-pundi, ponjen, tepa sirih, cambul-cambul perak, kacip dari emas, giwang
anting-anting, bonel untuk si kecil dan untuk permaisuri, tempat ludah teko, tikuan
buatan cina, dan barang-barang bunyian seperti keromong, gambang keromong,
gong, tawak-tawak, dan lengkap dengan beberapa orang pemainnya. Konon kabarnya
anak cucu dari pemain bunyian ini banyak tersebar di Sambas, dan yang terbanyak
adalah di kampung Dagang. Sejak itu pula kampung tersebut dinamakan KAMPUNG
DAGANG, karena pengertian orang waktu itu adalah orang dagang, justru asal
kampung Dagang ini adalah kampung Seniman, dari sanalah para seniman Sambas
berasal, demikian yang punya cerita menceritakannya. Seperti diketahui bahwa
alat-alat kebesaran kerajaan pada umumnya masih lazim dipakai, terutama dalam
upacara perkawinan, kematian, penobatan dan lain-lain. Juga kerajaan Sambas
pernah menerima peninggalan pusaka almahrum Ratu Sipudak yang sampai kini masih
disimpan dan dikumpulkan di dalam istana di antaranya adalah:
1. Sebuah LELE
(Meriam kecil) berbuntut panjang dengan nama raden Sambir
2. Sebuah LELE
berbentuk pendek tidak berbuntut bernama raden Amas
3. Sebuah LELE
bentuknya paling kecil dari semuanya itu dan tidak berbuntut bernama raden
Kajang
Kesemua
barang-barang itu merupakan lambang Negeri Sambas pada zamannya.
Penulis : H.
Uray Djalaloeddin Yusuf Dato Ronggo
0 Response to "Sultan Pertama Kerajaan Sambas"
Posting Komentar