Latest News

Sejarah Hubungan Kerajaan Sambas dengan Kerajaan Brunei

Sejarah Kerajaan Sambas Di zaman dahulu, di tanah Berunai yaitu di sebagian tanah disebelah utara pulau kalimantan, sudah berdiri sebuah kerajaan besar dan termasyhur. Sehingga pulau kalimantan disebut juga pulau brunai atau borneo.

Berunai adalah sebuah negeri yang termasuk negeri yang tertua, sama saja dengan kerajaan yang berada dipulau jawa. Kerajaan, pada abad ke-9, merupakan salah satu kerjaan yang sudah menganut agama islam yang dikendalikan oleh Sultan Mohammad. Adapun sultan mohammad itu mempunyai seorang puteri. Puteri tersebut dikawinkannya dengan seorang muallaf keturunan bangsawan tionghoa bernama Wong Sin Tong. Beberapa tahun kemudian ia bergelar Sultan Ahmad. Selama ia memegang tampuk pemerintahan negeri berunai sangat makmur. Beliau sangat dihormati dan disayangi oleh semua lapisan masyarakat karena beliau sangat cerdik dalam mengatur negeri, sehingga tidak heran kalau para saudagar dari tempat lain datang berkunjung ke negeri tersebut untuk tujuan berdagang.

Dari hasil perkawinan itu sultan ahmad memperoleh seorang puteri yang kemudian puterinya tersebut dikawinkan dengan bangsawan arab yang baru datang dari mekkah, yang berasal dari suku Amir Hasan di negeri Tha’if Ali bin Abu Numaie bin Syarif Berkat, sebagai pengganti sultan ahmad yang sudah tua itu. Kemudian ia bergelar Sultan Berkat. Sultan berkat juga memperoleh seorang putera yaitu Sultan Sulaiman yang memiliki anak yang bernama Sultan Balkia. Sultan balkia beranakan Sultan Syaiful Rizal, Sultan Syaiful Rizal beranakan Sultan Abdul Jalil Jabar memerintah di negeri berunai dan yang kedua bernama raja tengah yang memerintah di dataran negeri Sarawak.

Diceritakan bahwa pada abad ke 12 itu, kedua raja tadi terkenal gagah berani sehingga kerajaan Berunai dan Sarawak semakin luas daerahnya disesbabkan karena banyak negeri-negeri yang takluk dibawah kekuasaannya hingga sampai ke negeri Sulu , Filipina. Begitupu rakyat sangat menyayanginya dan dengan bantuan rakyatnya pula dapatlah dibangun mesjid, surau, dan madrasah di negeri tersebut.

Sejarah Kerajaan Sambas Pada tahun 1492 M, Raja Tengah lalu pergi bertmasya bersama angkatan kebesarannya, diiringi oleh beberapa buah perahu layar menuju negeri Johor. Dua tahun lamanya ia berada di negeri johor, kemudian berlayar pulang kembali ke negeri Sarawak. Akan tetapi badai dan taufan telah memukul perahunya dalam perjalanan, sehingga terdampar di negeri Sukadana. Pada masa itu yang menjadi raja sukadana adalah Panembahan Sirih Mustika (Panembahan Melian). Raja tengah setelah segar kembali tubuhnya, akibat serangan badai dan taufan itu segera menghadap raja Sukadana yang diikuti oleh beberapa pengiringnya. Kedatangannya disambut oleh raja sukadana dengan gembira serta penuh rasa hormat dan kebesaran secara Raja – Raja.

Diceritakan bahwa sewaktu Penambahan sukadana mendapat gelar Sultan Mohammad Syafi’udin, Raja Tengah menjadi wazir kerajaan dengan tugas khusus mengenai peribadatan. Kepercayaan tersebut dimanfaatkan oleh raja tengah dengan sebaik-baiknya.

Disamping itu ia memperdalam pengetahuannya lagi tentang seluk beluk agama islam kepada seorang Syekh berasl dari arab yang bernama syekh syamsuddin yang belum beberapa masuk ke sukadana dari mekkah untuk mengembangkan agama islam disana. Lama kelamaan ,  Sultan Sukadana menyadari bahwa raja tengah itu betul-betul berasal dari keturunan raja-raja. Ini dilihat dari kesanggupan raja tengah bekerja dengan penuh khidmat, budi pekerti luhur, tutur bahasa yang lembut dan halus tingkah lakunya. Karena raja tengah sangat disayangi dan dipercayai dalam segala hal oleh sultan sukadana, akhirnya raja tengah itupun dikawinkan dengan saudara muda sultan yang bernama ratu surya kusuma. Dari perkawinan ini raja tengah memperoleh tiga orang putera dan dua orang puteri. Ketiga orang puteranya tadi , yang sulung bernama raden sulaiman, yang kedua bernama raden baha’uddin, yang ketiga bernama raden abdul wahhab.

Sungguhpun raja tengah sudah lama tinggal di sukadana namun belum juga terlintas dipikirannya untuk pulang ke Serawak. Tetapi hatinya tetap gelisah karena keinginannya behitu kuat untuk pergi ke negeri  sambas, sebab waktu berada di negeri johor dulu, ia pernah mendapat keterangan dai bunda mudanya permaisuri negeri  johor tentang sumber emas yang terkenal di negeri sambas, yaitu di siminis, sibawi, silawbat, dan lala lumar bengkayang, serta batu manggan di sekere-sirantakair-ra’sa di seiballo, terkenal dengan emas kertasnya juga mantrado, tengkawang Ipohon (borneo talk) di sekitar gunung pandereng (mandareng), buah pala, buah keminting (kemiri), buah intenet (buah baju) obat lemah syahwat untuk kaum pria (impoten), batang pidare putih (pasak bumi), kedua pohon inilah yang terutama dicari oleh raja tengah. Karena beliau sudah lanjut usia dan perlu memakai ramuan tradisional. Maksudnya ini kemudia disampaikannya kepada iparnya yaitu sultan mohammad syafi’udin yang akhirnya mengizinkan raja tengah itu meninggalkan negeri sukadana untuk melaksanakan cita-citanya.

Setelah menanti saatnya yang baik maka berangkatlah angkatan sekunar raja tengah berikut para pengiringnya. Yang memerintah negeri sambas waktu itu ialah batara majapahit, bergelar ratu sipudak. Pernah diceritakan bahwa negeri sambas saat itu adalah kota lama, sebuah perkampungan yang berada dalam wilayah kecamatan teluk keramat kurang lebih 40 km sebelah barat dari kota sambas sekarang. Sedangkan tanda-tanda kerajaannya masih ada yaitu jalan pangkalan yang terbuat dari marmer/batu pualam serta tanda-tanda lainnya yang menunjukkan bekas suatu kerajaan.

Setelah beberapa hari lamanya berlayar, maka tibalah rombongan raja tengah di negeri sambas, disambut oleh baginda ratu sipudak dengan alat kebesaran raja-raja, penuh kegembiraan yang tak terhingga.

Pada masa itu baginda sipudak mempunyai dua orang anak yaitu yang tertua puteri sudah dikawinkannya dengan keponakannya sendiri bernama pangeran prabu kencono, yang kemudian ditetapkan akan menjadi pengganti ratu diatas singggahsana kerajaan apabila ia telah meninggal. Puterinya yang kedua masih muda belia bernama pangeran mas ayu bungsu dipertunangkan dengan raden sulaiman putera sulung dari raja tengah lahir di sukadana. Adapun raja tengah selama berada di negeri sambas terus menyiarkan agama islam, baik di keraton maupun di kota dan meluas sampai ke desa-desa. Setelah ratu sipudak mangkat maka dinobatkanlah pangeran prabu kencono menjadi pimpinan pemerintahan dengan gelar  ratu anom kesumayuda, sedangkan mas ayu bungsu dikawinkan pula dengan raden sulaiman. Dari perkawinan ini raden sulaiman memperoleh seorang putera yang diberi nama raden bima.

Tidak terlalu lama sekitar tahun 1592 M, setelah kelahiran bima ini, raja tengah itupun pulang kembali ke negeri serawak guna menjenguk sanak saudara yang sudah sekian lama ditinggalkannya. Akhirnya raja tengah dikabarkan wafat di negeri sarawak serta dimakamkan di tepi sungai bedil, kini disebut orang denga Kucing, sebagai ibu kota serawak.

Negeri sambas dibawah pimpinan ratu anom kusumayuda menurut lembaran adat istiadat kerajaan bekerja dibawah raja. Para pembesar kerajaan harus bekerja bersama-sama denga raja. Maka pemerintahan ratu anom kesumayuda telah menyususn serta menetapkan pembantunya antara lain :
Pangeran aria mangkurat adalah wazir yang pertama diberi kekuasaan untuk menyelenggarakan pembendaharaan negeri serta wakil raja apabila raja berpergian atau berhalangan.
Raden sulaiman menjadi wazir yang kedua, dibantu oleh tiga orang menteri kerajaan yang masing-masing diberi tugas kewajiban untuk urusan dalam dan luar negeri serta urusan peribadatan. Ketiga pembantu tersebut adalah : kiyai jaka sari, kiyai diponogoro dan kiyai satia bakti.

Demikianlah bila diadakan pengangkatan orang-orang besar ataupun para pegawai kerajaan, mereka yang diangkat itu terlebih dahulu diharuskan bersumpah dengan cara meminum air dari rendaman keris pusaka negeri, dimaksudkan sebagai suatu jaminan tanda setia dengan tulu ikhlas menjunjung tinggi perintah raja. Sebaliknya, apabila seorang melakukan perbuatan durhaka melanggar adat ataupun berkhianat, maka keris pusaka tadilah yang akan bertanggung jawab atas jiwanya.

Ratu anom kusumayuda yang telah dinobatkan menjadi pimpinan, namun beberapa tahun kemudian timbul perselisihan antara pengeran arian mengkurat dengan raden sulaiman yang semakin meruncing, disebabkan semata-mata oleh persoalan agama . dalam perselisihan paham dan pendapat karena berlainan agama itu pulalah terbunuhnya kiyai satia bakti yang dibunuh oleh pengeran aria mangkurat.

Semua ratu mengambil sikap dan berdiri menjadi orang tengah, tetapi walau bagaimanapun didamaikan, perselisihan bukannya menjadi berkurang malahan semakin tegang. Masing-masing bersifat keras dan tidak mau saling mengerti, masing-masing karras takkak, terutama pangeran aria mangkurat, ratu telah menyelidiki bahwa perbuatan pangeran tersebut banyak bertentangan dengan tujuan agama islam yang sebenarnya. Tetapi ratu tidak berdaya, dan kekhawatiran ratu adalah timbulnya perang saudara yang memang tidak diinginkannya, puncak kesulitan itu amat dirasakannya.

Penulis : H. Uray Djalaloeddin Yusuf Dato Ronggo

0 Response to "Sejarah Hubungan Kerajaan Sambas dengan Kerajaan Brunei"