Sejarah Sambas Pada Tahun 1850
timbul pemberontakan dari gabungan kongsi-kongsi parit tambang emas bangsa
tionghoa untuk melawan dan merobohkan kerajaan Sambas itu. Gabungan tersebut
terdiri dari kongsi Thai kong, Sam to kui, mang kit tiu, dan hang fong di
mandor kongsi-kongsi tambang tionghoa tersebut. Semua tidak mau mengantarkan
upeti sebagaimana mestinya kepada raja, walaupun sudah diberi peringatan tidak
juga diindahkan oleh mereka, malahan dengan serentak melawan raja dan akan
merampas negeri Sambas.
Pertempuran terjadilah penyerangan dari kongsi-kongsi tambang sangat luar biasa hebatnya oleh karena pertahanan negeri sambas tidak cukup kuat, Sultan kemudian minta bantuan kepada Goebernemen Belanda, yang permintaan bantuan tersebut sebelumnya telah disetujui oleh wasir dan menteri di Istana. Tahun 1851 tiba ppasukan dari betawi di Sambas, dipimpin oleh Overste Sorg untuk menyerang dan mematahkan pertahanan kongsi-kongsi tionghoa tersebut. Diantaranya merebut benteng pertahanan dari Sam to kiu di pemangkat yaitu disebut orang sampai sekarang kampung Semparuk, berasal dari bahasa tionghoa “Sam pak Lok” yang artinya tiga ratus masuk (Tiga ratus orang masuk tentara belanda). Dalam pertempuran ini Overste Sorg tewas kemudian dikuburkan diatas sebuah bukit di penimbungan pemangkat sedang pemberontakan dapat pula dipadamkan oleh Goebernemen Belanda.
Tahun 1854 api pemberontakan
berkobar kembali oleh Goebernemen didatangkan bantuan yang lebih kuat dari
Betawi yang dipimpin oleh Let. Kol Andderson. Perlawanan pemberontakan tersebut
dapat disapu bersih, dan dari sejak itu pulalah segala bangsa tionghoa yang
berdiam di dalam lingkungan kerajaan Sambas oleh sultan diserahkan masuk
menjadi rakyat Goebernemen Hindia Belanda. Tahun 1855 Sultan Abubakar Tadjuddin
II bermaksud akan beristirahat di puau jawa. Selesai melapangkan pikirannya
juga akan membincangkan soal pendidikan bagi puteranya yaitu Pangeran Adipati
agar dapat menuntut ilmu yang lebih mendalam bakal kemudian harinya. Dengan
cita-citanya yang besar itu sultan kemudian diangkat menjadi yang dipertuan,
sedang pengganti sultan ialah Pangeran Ratu Mangku Negara (Raden Toko) dengan
pangkat wakil sultan bergelar Sultan Umar Akmuddin (Sultan yang ke 12).
Sejarah Sambas pada tanggal 21 juli 1861 pangeran
Adipati kembali ke Sambas setelah beberapa tahun lamanya menuntut ilmu di pulau
jawa. Di betawi pangeran Adipati pernah tinggal di rumahnya pangeran Syarif
Abdullah Alkadri. Sedang ayah serta keluarganya tinggal menetap di Cianjur.
Kemudian pangeran Adipati oleh Goebernemen dipindahkan ke Ciamis (Galuh) dan
diserahkan kepada Bupati Galuh bernama Raden Adipati Aria Kusuma Diningrat guna
dididik dalam pengetahuan pemerintahanNegeri (Ketatanegaraan). Dalam tahun 1861
Pangeran Adipati pindah lagi ke Betawi. Dengan beslit Goebernemen tanggal 5
april 1861 ia dilantik menjadi sultan Muda, kemudian tanggal 23 juli 1861 oleh
Goebernemen disediakan sebuah kapal perang “ARDJUNA” guna mengantarkannya
kembali ke Sambas bersama pamannyaPangeran Temenggung Djaya Kusuma (Raden
Ruai).
Setibanya pangeran Adipati ke
Sambas, pada mulanya ia dipekerjakan dalam lapangan pemerintahan negeri selaku
wakil dari pangeran Bendahara Seri Maharaja pengganti sementara waktu jabatan
pangeran Bendahara (Raden Mohammad Senen) yang ketika itu meninggal dunia.
Akhirnya dengan beslit Goebernemen tangga 6 Agustus 1866 ia dinobatkan menjadi
sultan Sambas dengan gelar Sultan Mohammad Tsafiuddin II (Sultan yang ke 13).
Dalam tahun 1872 banyak pembangunan yang dilaksanakan oleh sultan tersebut di
atas diantaranya pembangunan sekolah dan mesjid. Dan pada tahun 1903 dengan
pangeran Tjakra Negara (Raden Panji Anom) yaitu keponakannya sendiri dapat
membangun sekolah Bumiputera kelas II sebagai perintis pembuka jalan, dimana murid-muridnya
terdiri dari beberapa orang keluarga sultan. Selanjutnya tanggal 1 Desember
1910 oleh Goebernemen didirikan sekolah specia school yang kemudian tahun 1915
sultan Mohammad Tsafiuddin II dengan yang berdasarkan Agama Islam bernama
Madrasah’tul sultaniah. Sekolah tersebut dipimpin oleh guru keluaran Azhar
University Cairo, seorang putera Sambas asli bernama Ahmad Basuni Imran.
Dalam tahun 1918-1923 sultan
memerintahkan membuat jalan dari Sambas ke Pemangkat, Singkawang dan
Bengkayang. Selama seperempat abad lamanya ia mengendalikan pemerintahan negeri
Sambas, oleh kerajaan Belanda Willem III ia dianugerahi sebuah bintang Singa
Nederland ialah atas kebaktian dan kesetiaan pada Goebernemen. Tahun 1915
ketika ia berusia 75 tahun oleh ratu Wilhelmina Raja Belanda, ia dianugerahi
pula sebuah bintang Commandeure in de orde van ora nye nassau pun sampai
wafatnya telah mendapat perhatian yang besar dari rakyatnya, dan sampai
sekarang makamnya masih dikunjungi orang yang terletak di kampung Asam. Dapat dikabarkan
bahwa sultan Mohammad Tsafiuddin dengan permaisurinya bernama Ratu anom kusuma
ningrat memperoleh seorang putera bernama Raden Ahmad dan dengan istrinya
bernama mas sultan mendapat pula seorang putera bernama raden Mohammad
diningrat. Setelah raden Ahmad cukup dewasa dengan beslit Goebernemen tanggal
13 februari 1874 No. 6 ia diangkat dan digelar pangeran Adipati serta
ditentukan sebagai putera mahkota. Dan istrinya yang bernama Utin puteri
pangeran Adipati memperoleh seorang putera bernama Raden Mohammad Mulia Ibrahim
kemudian digelar dengan pangeran Ratu Nata Wijaya. Tetapi pada tanggal 21
agustus 1916 pangeran Adipati wafat terlebih dahulu mendahului ayahnya.
Sedangkan Raden Mohammad Aria Diningrat setelah tamat dari sekolah partikulir
Wilbe School dalam Istana 8 Desember 1890, melanjutkan pelajarannya lagi ke
sekolah menak (Raja) di Stovia di Bandung. Pada tanggal 21 Maret 1894 ia keluar
dari sekolah tersebut dan pulanglah ke Sambas. Tahun 1895 ia diangkat menjadi
guru sekolah tersebut kemudian dipekerjakan sebagai magang di kantor Pangeran
Bendahara Seri Maharaja.
Disamping itu oleh ayahnya ia
diserahkan kepada Haji Mohammad Imran Maharaja Imran Muftidi kerajaan Sambas,
agar dididik pula dalam agama Islamyang sedalam-dalamnya. Dengan beslit Goebernemen
Jendral tertanggal 5 April 1902 No.54 ia diangkat menjadi anggota pengadilan
Landraad di Sambas, dan pada tanggal 31 Desember 1903 oleh Ayahnya ia diangkat
sebagai wakil sultan di Singkawang digelar dengan nama Ratu Temenggung Kusuma
Negara. Dalam tahun 1907 ia dipindahkan kembali ke Sambas untuk Ayahnya
Dikabarkan bahwa ketika Pangeran Ratu Nata Wijaya (Raden Mohammad Mulia
Ibrahim) sedang dibangku sekolah, pada tanggal 17 Juli 1915 oleh sultan
Mohammad Tsafiuddin II memerintah kepada Raden Aria dan Raden Abubakan Pandji
Anom pergi ke Serang (Banten) guna menyerahkan pangeran tersebut dengan
pengangkatan tuan D. Rottir direktur Os Via di Jakarta agar dapat melanjutkan
pendidikan yang lebih tinggi. Dan pada tanggal 15 Juli 1922 pangeran tersebut
kembali ke Sambas dan bekerja di Singkawang, Bengkayang serta pada tanggal 1
Januari 1923 bekerja di kantor panembahan Negeri Matan (Ketapang).
Penulis : H.
Uray Djalaloeddin Yusuf Dato Ronggo
0 Response to "Sejarah Pemberontakan Kongsi-Kongsi Tionghoa"
Posting Komentar