Kerajaan Sambas Pada
masa pemerintahan Sultan Muhammad Tsafiudin II lebih memeberikan perhatiannya
padan pembangunan dan kesejahteraan rakyat terutama dibidang pendidikan.
Berkata pendidikan dan pengalaman baginda sewaktu muda, banyak
perubahan-perubahan yang terjadi dimasa pemerintahannya. Belum ada Sultan
terdahulu yang menyamai baginda dalam lapangan meningkatkan pengetahuan dan
kemajuan rakyat.
Banyak pemuda pemuda yang berbakat di bidang agama
diberi beasiswa oleh baginda Sulthan Muhammad Tsafiudin II untuk melanjutkan
pendidikannya di Al Azhar kairo Mesir. Diantaranya yang terkenal adalah H.
Muhammad Basiuni Imran yang kemudian diangkat sebagai maharaja Imam Kerajaan
Sambas.
Pada
tahun 1872, baginda mendirikan sekolah pertikuler , pada bulan september 1903 M
didirikan sebuah sekolah bumi putra kelas II, kemudian pada tanggal 1 Desember
1910 M didirikan lagi sebuah sekolah, yaitu “ Special school” sumber lain
menyebutkan Byzondere School yang kemudian pada tahun 1915M sekolah tersebut
dirubah menjadi Hollands Inlandsche school (HIS). Pada tahun 1916 M baginda
shultan mendirikan lagi sebuah sekolah yang bernafaskan islam yaitu Madrasah
Shultaniah yang pembinaannya dipercayakan kepada putera Sambas dari kampung
dagang, Haji Fauzi Imran.
Pada
masa itu di kesultanan Kerajaan Sambas banyak terdapat para ulama, mubaligh dan
cendikiawan yang terdapat di Mekkah. Sehingga akhirnya saking tingginya
pengetahuan para ulama di Sambas mengenai ajaran Islam menyebutkan Sambas
mendapatkan julukan “Serambi Mekkah” maksudnya kalau belajar agama Islam di
Sambas kualitasnya sama dengan mereka yang belajar di Mekkah.
Selain
Pembangunan dibidang Pendidikan, Baginda juga mengadakan pembangunan dibidang
pertanian, perkebunan dan perhubungan. Diantaranya pembuatan Irigasi yang
berguna untuk mengairi kebun kebun karet dan ladang rakyat. Banyak juga digali
terusan terusan untuk mencegah banjir, disamping untuk memudahkan rakyat untuk
membawa hasil pertanian dan perkebunan, seperti terusan parit Sebuk, Kartiasa,
Semangau, Sebangkau Semparuk, Parit Baru dan lain lain. Sepanjang terusan
tersebut di tanami dengan pohon-pohon yang mendatangkan hasil.
Dibidang
perhubungan Baginda Shultan membuat jalan dan jembatan, baik di dalam kota
maupun di luar kota, seperti jembatan yang menghubungkan sungai Sambas kecil,
jembatan yang menghubungkan sungai Teberau dan jembatan yang menghubungkan
sungai Subah. Baginda juga membangun jalan yang menghubungkan satu kota dengan
kota lainnya, yang menghubungkan Sambas dengan Pemangkat, Singkawang dan
Bengkayang.
Selama
56 tahun lamanya memerintah negeri Sambas, baginda dapat mengubah kota Sambas
menjadi ibukota Kerajaan yang terpenting di wilayah Kalimantan Barat. Julukan
Serambi Mekkah terbukti dengan prestasi yang ditunjukan oleh masyarakat Sambas
diantaranya:
Dimasa sebelum adanya
Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di Sambas sudah ada kejuaraan
“Beradu Ngaji” , masih tercatat qori’ah angkatan 50-an yakni nenda
bunyanga sebagai juara beradu ngaji angkatan 50-an.
Hj.Wahdah
Muchsin adalah qori’ah angkatan 60-an yang pernah menjadi
juara I MTQ Tingkat Nasional.
Fadilah
adalah salah satu qori’ah angkatan 70-an, beliau pernah menjadi juara II MTQ
Tingkat Nasional tingkat Anak-anak.
Hj.Wafizah
merupakan qori’ah angkatan 80-an yang beberapa kali menjadi juara MTQ Tingkat
Propinsi Kalimantan Barat
Munazzafina
adalah qori’ah angkatan 80-an beliau pernah menjadi juara MTQ Tingkat Kabupaten
Sambas.
Satira
adalah qori’ah angkatan 90-an , beliau pernah menjadi juara MTQ tingkat
Propinsi Kalimantan Barat.
Dang
Sriwanhar merupakan qori’ah angkatan 2000, Juara I MTQ
Tingkat Propinsi Kalimantan Barat golongan remaja tahun 2005.
Dan masih banyak
deretan qori dan qori’ah asal Kabupaten Sambas yang telah mengukir prestasi.
Sumber Literature : Budaya Sambas
Gemilang Tempo Dulu
0 Response to "Serambi Mekkah di Kerajaan Sambas"
Posting Komentar