Dari
dalam kaum ke sembarang,perjalanan dari Sambas ke Sembarang lebih kurang
setengah jam, untuk melihat kebudayaan gemilang daerah yang sampai detik ini
masih lestari dan dikembangkan, yakni kain tenun adat Sambas.
Sudah
sejak dahulu kala, kain tenun dikenal masyarakat luas dan keberadaannya selalu
dikaitkan dengan acara ritual keagamaan ataupun budaya daerah, seperti pada
acara pesta perkawinan, pindah rumah atau khataman Qur’an serta pada acara
kesenian yang menampilkan terian yangbbernuansa melayu seperti Tari Jepin dan
Tandak Sambas. Kain tenun adat Sambas, dulu pembuatannya memakan waktu yang
cukup lama karena dikerjakan secara sambilan bukan pekerjaan tetap. Kerajinan
tangan yang menggunakan alat tradisional ini sering disebut dengan istilah Tenun songket , disebut demikian karena
proses pembuatan kain selalu melalui proses menenun yaitu menyatukan benang
pakan dengan benang lusin dan menggunakan alat yang disebut gigi suri yang yang berbentuk seperti
sisir dan terbuat dari kulit enau atau kulit bemban. Disebut Songket karena
dalam pembuatan kain melalui proses menyongket yaitu proses memindahkan atau
menyalin motif kain dari pola atau sujibilang ke benang lusin dengan
menggunakan alat songketan yang terbuat dari bulu binatang landak, dan setiap
kain yang dibuat melalui proses menyongket pasti menggunakan benang emas atau
perak pada motif kainnya.
Perkembangan
zaman tidak mempengaruhi cara pembuatan kain tenun adat Sambas yang masih
dikerjakan secara tradisional dengan menggunakan peralatan yang cukup
sederhana, yang terbuat dari bahan yang banyak terdapat disekitar tempat
tinggal.
Kerajinan
Tenun Songket Sambas sudah lama ditekuni oleh masyarakat Melayu Sambas, dari informasi
yang di dapat kerajinan tenun Songket Sudah ada di Sambas, sejak masa
SulthanMuhammad Tsafiudin I (Rd. Sulaiman) memerintah di Kerajaan Sambas.
Sebagai
Ungkapan Budaya, tenun tradisi ini mengalami masa jaya yang cukup cemerlang,
tetapi juga masa suram yang cukup menyedihkan dimasa pendudukan Jepang.
Pada
masa-masa sebelumnya, hampir setiap rumah dikampung-kampung dalam kota Sambas
dan sekitarnya, kita selalunmendengar suara orang bertenun, tetapi ketika
Jepang berkuasa (1942-1945), suara merdu dari peralatan tenun tersebut tidak
lagi kedengaran. Tidak ada pekerjaan bertenun saat itu bukan saja disebabkan
sulitnya mendapatkan bahan baku, tetapi kaum perempuan yang pada umumnya
sebagai pengrajin tenun, lebih dihantui rasa takut akan di datangi tentara
Jepang.
Kemajuan
perkembangan yang sangat menggembirakan dan merupakan masa jayanya tenun
tradisi dimasa lampau tidak terlepas karena adanya dan diberlakukannya berbagai
adat dan kebiasaan dalam masyarakat. Tidak terkecuali adat dan tata cara berpakaian.
Salah satu adat masyarakat Sambas bahwa seorang laki-laki mengenakan baju jas,
berkain “cual” serta berkopiah bilamana menghadiri majelis jamuan undangan
pesta perkawinan, gunting rambut dan acara adat lainnya. Bagi pengantin wanita,
diadatkan pula memakai baju kebaya bludru, jamang dan teratai serta berkain
“lunggi” pucuk rebung. Bagi kaum perempuan ibu-ibu, diharuskan menggunakan kain
dan selendang kumbang “lunggi” bila menghadiri pesta perkawinan tersebut. Pada
acara “antar pinang” pihak keluarga calon pengantin laki-laki, sedapatnya
menyertakan kain lunggi satu helai atau lebih, yang nantinya diserahkan kepada
pihak keluarga calon pengantin perempuan sebagai barang antaran, bersama sama
barang antaran lainnya.
Masyarakat
melayu Sambas merasa bahagia dan merasa bangga bila mereka mampu melaksanakan
apa yang telah diasatkan.
Kisah
lampau menyebutkan, apa-apa yang diadatkan menyangkut kain hasil tenun songket
tersebut, adalah atas anjuran sulthan, khusus untuk busana rakyatnya.
Kain
tenun Sambas merupakan salah satu dari hasil kreativitas masyarakat Sambas,
Kalimantan Barat, dalam menuangkan ide-ide yang di pahami dan dihayati dalam
selembar kain. Oleh karenanya, dengan demikian memperhatikan dan membaca
motif-motif yang terhampar dalam selembar kain tenun Sambas, kita dapat
mengetahui nilai-nilai yang dihayati dan berkembang dalam masyarakat Sambas,
nilai-nilai tersebut diantaranya adalah nilai sakral, sejarah, pemahaman
terhadap alam, kreatifitas, inklusifitas, dan nilai ekonomis.
Pertama
nilai sakral, kain tenun Sambas merupakan salah satu perlengkapan dari
pelaksanaan ritual adat dan keagamaan masyarakat Sambas. Dengan kata lain,
keberadaan tenunan ini sangan diperlukan untuk mensukseskan pelaksanaan ritual
adat atau keagamaan. Oleh karena itu, keberadaan tenunan ini merupakan
pengejawantahan dari keyakinan masyarakat Sambas.
Kedua,
nilai pemahaman terhadap alam. Dengan melihat dan membaca motif pada kain tenun
Sambas, maka kita mengetahui kondisi alam di mana masyarakat Sambas hidup dan
membangun Kebudayaannya. Alam bagi para pengrajin tenun Sambas merupakan sumber
inspirasi untuk menciptakan motif-motif tenunan. Sehingga dengan demikian,
dengan melihat dan mempelajari motif kain tenun Sambas, kita akan mengetahui
flora dan fauna di Sambas dari masa ke masa.
Keempat,
Nilai ekonomi. Dalam paradigma ekonomi kreatif, maka kreatifitas memiliki nilai
ekonomi tinggi, hal inilah yang nampaknya mulai disadari oleh masyarakat
Sambas. Tenun Sambas tidak saja memiliki nilai kultural, tetapi juga nilai
ekonomis tinggi, oleh karena itu yang diperlukan saat ini adalah menggali
nilai-nilai ekonomis yang dikandungnya, sehingga keberadaan kain ini dapat
memberikan manfaat lebih kepada masyarakat. Sebagai sumber ekonomi, maka kain
tenun Sambas tidak hanya memberikan kebanggaan secara budaya kepada masyarakat,
tetapi juga yang bersifat ekonomi.
Tenun
Sambas merupakan manifestasi dari nilai-nilai yang diyakini, hidup dan
berkembang ditengah-tengah masyarakat Sambas, tenunan ini juga menjadi media
untuk mewariskan nilai-nilai tersebut, sehingga dapat menjadi landasan generasi
sesudahnya untuk hidup dan membangun kebudayaan yang lebih baik tanpatercerabut
dari akar lokalitasnya. Melihat begitu pentingnya nilai-nilai yang terkandung
dalam tenunan ini, maka seyogyanyalah jika kain ini terus dilestarikan..
Kita
berkaca ke masa lalu dan membandingkannya dengan keadaan masa kini,sadar atau
tidak sadar bahwa kita sebenarnya telah cukup jauh meninggalkan, bahkan
melupakan akar kebudayaan kita, dan telah menjadi kelompok marjinal dinegeri
sendiri. Dari situ, kemudian muncul keinginan dan kesadaran baru untuk
memperhatikan dan menghidupkan kembali kebudayaan yang pernah ada dalam
kehidupan sehari-hari. Perhatian dan keinginan tersebut tidak hanya di
latarbelakangi oleh nostalgia dan romantisme masa lalu, tapi juga disebabkan
oleh adanya kesadaran dan pengetahuan tentang keagungan dan keluhuran budaya
tersebut. Untuk itilah aspe-aspek mengenai kebudayaan melayu Sambas, seperti
pandangan hidup, tunjuk ajar, adat istiadat, bahasa dan sastra perlu
diaktualisasikan kembali dalam kehidupan sehari-hari.
Orang-orang
melayu amatlah menggemari pantun. Orang tua-tua mengatakan bahwa dengan
berpantun orang lebih cepat menyimak dan mengingatkan, sehingga lebih mudah
mewariskannya.
Ungkapan
adat mengatakan : “ di dalam pantun banyak penuntun “ selanjutnya dikatakan:
Bertuah
orang berkain songket
Coraknya
banyak bukan kepalang
Petuahnya
banyak bukan sedikit
Hidup
mati dipegang orang
Kain songket tenun melayu
Mengandung makna serta ibarat
Hidup rukun berbilang suku
Sebarang kerja boleh dibuat
Bila
memakai songket berkelas
Di
dalamnya ada tunjuk dan ajar
Bila
berteman tulus dan ikhlas
Kemana
pergi tak akan terlantar
Sumber Literature : Budaya Sambas
Gemilang Tempo Dulu
0 Response to "KERAJINAN KAIN TENUN SAMBAS"
Posting Komentar