Pada
masyarakat melayu Kalimantan Barat seni musik tradisional yang terkenal adalah
seni musik tanjidor dan tahar. Seni musik tanjidor ini sampai sekarang masih
digunakan dalam acara perkawinan. Peralatan musik tanjidor ini terdiri dari
terompet yang beraneka ukuran, drum (tanji) dan lain sebagainya.
Instrumen
musik dangdut menggema dikeramaian pesta perkawinan pagi itu, karena iramanya
cukup akrab ditelinga, sehingga tidak sedikit undangan yang komat
kamit”kelakuan si kucing garong…….”demikian kalimat salah satu bait tembang
yang dilantunkan tersebut. Anak-anak, muda mudi, dewasa hingga nenek-nenek
tampak riang gembira.
Pesta
perkawinan tanpa tanjidor ibarat sayur tanpa garam. Begitu kuatnya tradisi
tanji bagi masyarakat Sambas, sehingga ada yang menganggap demikian.
Menurut
A. Muin Ikram, salah seorang budayawan sambas. Ketika dihubungi dikediamannya,
anggapan yang demikian sebenarnya sudah sejak lama. Betapa tidak, Sejak abad
ke-19 musik tanji sudah dikenal masyarakat Sambas.
Pak
muin menerangkan bahwa musik tanjidor masuk ke Sambas bersamaan dengan masuknya
VOC. Ketika itu musik tanji dimainkan sebagai penghibur bagi majikan Belanda.
Lama kelamaan karena enak didengar, akhirnya tanji akrab dengan kalangan
bangsawan setempat. Lantas kemudian ia berubah menjadi musik jalanan, tumbuh
berkembang di masyarakat.
Kelompok
musik tanji ibarat jamur dimusim hujan, ia terbentuk hampir disetiap
perkampungan. Mereka memesan berbagai alat tanji kepada kapal dagang yang
datang dari Singapura ke Sambas, lantas barang tersebut di barter dengan
karet,rotan dan hasil pertanian lainnya.
Iramanya
yang khas bergembira, sehingga tanji digemari banyak orang, setiap ada pesta
pernikahan dan hajatan keramaian seperti naik haji, dan sebagainya tanji selalu
dihadirkan. Setiap tamu yang akan datang maupun pulang, diiringi dengan alunan
tanjidor begitu juga dengan arak-arakan pengantin pria atau rombongan haji,
tanjidor ikut serta mengiringinya.
Muin Ikram menambahkan, bahkan pada zaman dahulu
sekitar tahun empat puluhan, digunakan oleh pemilik bioskop di Sambas untuk
mempromosikan film baru yang akan diputar, sejumlah poster film baru diarak
keliling kota bersama tanji pada sore hari menjelang pemutaran film, dan
malamnya sebelum pemutaran film, tanjidor juga bersenandung dan baru berhenti ketika pertunjukan dimulai,
tanjidor seolah sudah menyatu dengan masyarakat Sambas saat itu, ia seperti
juga tari radat, pangkak gasing, dan permainan rakyat lainnya.
Namun
kesuraman terjadi setelah terjadi perang dunia II. Kehadiran Jepang ke Sambas
membuat suasana berubah menjadi 180 derajat. Kemiskinan melanda semua lini
kehidupan, jangankan untuk menikmati alunan tanjidorsaat keramaian, keluar
rumah malam hari saja orang pada takut.
Bangkit Kembali
Setelah
suasana agak reda dan Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, tanjidor
bangkit kembali sekitar tahun lima puluhan. Masing-masing pemain di kampung berhimpun
kembali untuk menghidupkan kembali aktivitas bermusiknya. Ia semakin menggeliat
pada awal enampuluhan, disaat KODAM TANJUNGPURA di Pontianak hendak mendirikan
korps Musik.
Puluhan
pemain tanji yang ada dikampung-kampung di Sambas, dipanggil ke Pontianak untuk
mengikuti testing. Dan hampir semua dari mereka yang di tes dinyatakan lulus
menjadi anggota korps musik kala itu. Dikarenakan kemampuan mereka yang
dipanggil tersebut juga memang tidak sembarang, selai bisa bermain musik,
pemain tanji tersebut juga dapat membaca not balok, peluang ini seakan menjadi
pemompa bagi muda mudi lainnya yang tinggal di Desa. Mereka berlomba-lomba
untuk belajar bermain tanji dan berhimpun membuat grup musik di pemukiman
masing-masing. Dengan harapan, suatu saat dapat mengikuti tes yang pernah
dilakukan kodam sebelumnya, sembari menunggu kesempatan untuk menjadi pemusik
kodam, setiap grup musik yang ada siap menjadi musik panggilan. Ketika ada
pesta dimasyarakat mereka diundang untuk tampil, dan dari situlah kemudian diperoleh
imbalan.
Namun
demikian, tidak ada yang menjadikan bermusik tanji sebagai profesi, ia hanya
sampingan bagi masyarakat sebagai pelampiasan kesenangan berseni.
Sampai
saat ini di Kabupaten Sambas terdapat lebih kurang 66 kelompok tanjidor yang
tersebar di 19 Kecamatan. Bicara soal musik, di abad ke dua puluh, kampung
Dagang di Kabupaten sambas terkenal dalam bidang kesenian. Masa keemasannya
pada tahun 1940-an hingga 1960-an ditandai dengan berdirinya dua bandyang
sangat terkenal dikota Sambas. Di Dagang timur suatu keluarga besar mendirikan
family band yang anggotanya memang masih berkerabat keturunan lobon, sedangkan
di Dagang barat berdiri pula Lief Sambas Band (LSB) yang sebenarnya juga sangat
erat dengan keluarga lobon, kedua band ini memiliki penyanyi-penyanyi wanita,
namun LSB selangkah lebih maju dengan band khusus yang dimainkan oleh para
wanita bernama Onanu Ongkago (Bahasa Jepang yang berarti band wanita). Mereka
kala itu hanya kalah dari UMA (United Musical Ash) yang berasal dari kampung Pasar
Pagi, ketiga band ini menjadi kebanggaan masyarakat Sambas pada waktu itu.
Pada
tahun 1940-an di kampung Dagang berdiri pula Orkes Melayu yang bernama “
Kenanga Hati”, adapun anggotanya adalah Marsudi, Bujang Djuri, Mubarak, Borda,
Johan, Said,Djawawi dan Bujang bagus yang juga bernyanyi di Family band. Adapun
anggota kelompok Family band adalah: Hoesein, pemain biola dan terompet,
Dulhadi pemain gitar pengiring,Sadjali pemain Drum, Chairuddin pemain Bass,
Sibon pemain Clarinet,Chairoman pemain saksepon, Usman pemain terompet, Sanusi
pemain trombon, Chairono pemain dan sanif pemain terompet.
Sedangkan anggota atau pemain Lief Sambas Band
adalah Agil sebagai pemain Biola sekaligus ketua, Mastur pemain terompet, Arief
pemain saksepon, Lamiri pemain biola, Dulhi pemain gitar, Dulhadi pemain
sopran, Sanusi pemain trombon, Arie pemain Bass, Wan Mansur pemain drumSalim
pemain drum, M. Nur pemain gitar, M. Samah pemain rumba dan Subri pemain
okulele. Para anggota kedua band ini mampu memainkan semua alat band, namun
untuk spesialisasi dalam kelompok band setiap orang hanya memigang bidangnya
masing-masing. Selanjutnya Onanu yang dipimpin dan diarahkan oleh Ami agil
beranggotakan: Erbah pemain Bass, Sorfah pemain gitar, Seha pemain gitar,
Sannor pemain gitar, Hafsah pemain banyo, Zulfah sebagai penyanyi, Kalsum
sebagai penyanyi, Radjiah pemain rumba dan Nurhasanah pemain gitar.
Bujang
bagus merupakan juara keroncong di kota Sambas pada waktu itu, suaranya tinggi
dan vokalnya baik, hasil didikan bang Oesen. Bila Bujang bagus tampil bernyanyi
maka yang lainnya seolah-olah sudah merasa kalah sebelum bertanding.
Tokoh
lain yang menonjol adalah pemain LSB bernama Lamiri dan Tam lamiri yang
kemudian hijrah ke Pontianak, disana dia mendalam ilmunya sehingga menjadi guru
Biola dan terkenal dikalangan musik Kalimantan Barat. Beliau kemudian memiliki
banyak murid terutama di Pontianak dan Singkawang. Nama besarnya kemudian
dilanjutkan oleh Hendry Lamiri pemain biaola handal pada grup band Arwana yang
telah memasuki kancah Nasional.
Seiring
beredarnya siang dan malam, waktu terus berjalan dan para pemain dimakan usia,
band band pimpinan Ami tersebut kemudian mengalami masa surut, masa surut ini
terjadi sekitar tahun1940 sampai 1950 M karena sejumlah pemain berimigrasi
melaksanakan tugas baru jauh dari kampung halaman maupun karena telah meninggal
dunia. Namun LSB tampil kembali dengan anggota baru yang para anggotanya bukan
hanya berasal dari kampung Dagang dan jumlah anggota wanitanya berimbang dengan
laki-laki.
Selain
grup Band dari kampung Dagang, kini kita ke kota pemangkat, perjalanan dari
Sambas ke Pemangkat lebih kurang 40 kmdengan transportasi darat, disini juga
terdapat dua grup musik pada waktu itu, yang pertama Surya Wirawan Band (1939)
Kedua Orkes Pantai Harapan (1952-1960) dibawah pimpinan Bulyan Musthafa.
Bulyan
Musthafa, pada usia 19 tahun sudah menguasai beberapa alat musik, bermula
memainkan marakas bakatnya mulai berkembang sejak beliau memainkan orkes
keroncong” Pantai Harapan” , selain sebagai pimpinan orkes di grupnya, Bulyan
memegang pemetik gitar utama sekaligus melodi, demikian pengakuan seniman yang
akrab dipanggil ende’Bul.
Lagu-lagunya
pernah dipopulerkan oleh biduanita ibukota almh. Lilies Suryani, darah seni
yang terus menggelora dalam dirinya, terbukti dari jari jemarinya yang terus
berayun menciptakan lagu, membuktikan bahwa di usia 79 tahun beliau masih
produktif.
Kepiawaiannya
dalam dunia seni cipta lagu, menguasai not angka dan not balok, pernah kursus
musik di Rapsudy in suing school of musik bandung tahun 1953 nama dan sosok
seorang Bulyan tercatat, yang kemudian menghantarnya pada pertemuan-pertemuan
lokal, nasional.
Pada
tahun 1993 menghadiri VISIT YEAR (Tahun kunjungan wisata di Surabaya) mewakili
Kalimantan Barat dalam rombongan tari sebagai pemain akordion yang diikuti
lebih kurang 20 propinsi seluruh Indonesia. Mewakili Indonesia dari 4 propinsi
dari Kalimantan dalam tournament of rouses 1994 ke-105 di pasadena California
Amerika Serikat.
Ciptaan
pertama Ende tahun 1954 langgam keroncong kota pemangkat, lagu-lagu beliau
beredar di seluruh Indonesia, Singapura, Malaysia dan diorbitkan oleh majalah
musik “Senandung Deli” Medan. Lagu ciptaan Bulyan pernah di populerkan oleh
Rukayah Sukri Kuching Serawak juara Seriosa Malaysia, dan telah dipiring hitamkan
berjudul “ Mengapa Suram”, “Terlena aku dalam ini”, “Sabar-sabarkanlah”.
Piagam
penghargaan yang di dapat saat ini adalah 37 piagam yang diterima dari:
- Wakil Presiden Try Soetrisno
- Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik
- Depdagri
- Gubernur
- Bupati
- Walikota
- Camat dan lain-lain
Hadiah
seni tahun 2008 diperoleh dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata berkat lagu
ciptaannya Kaing Lunggi yang pernah
difestivalkan pada tingkat propinsi se-Kalbar yang dilaksanakan oleh Dinas
Budparpora kota Singkawang.
Seniman
yang satu ini ikut berjuang gerakan bawah tanah melawan penjajahan belanda
tahun 1947 (Buku Sejaran dan pemerintah kab. Sambas). Dimasa nasakom pernah di
tahan selama 6 bulan 15 hari ditahan polisi Singkawang dan LP Sambas terkait
masalah politik, ekonomi.
Diantara
sekian banyak ciptaan beliau, genre musik yang diciptakan:
- Lagu Pop Daerah Sambas
- Lagu Pop Indonesia
- Lagu Pop Anak-anak Indonesia
- Lagu Pop Anak-anak daerah Sambas
- Lagu Mars, Hymne AMD (Abri masuk desa, Mars Kijang berantai, Mars Pop SIMPEDA Bank pembangunan Daerah Kalbar tahun 1991, Mars Gayung bersambut serta Mak lurah = Makan telur disekolah= (Pop Anak) Mars Terigas, Mars PKK, Mars STAIS, Mars/Pop MABM.
Buku
lagu yang pernah diorbitkan oleh Dinas Kombudpar Kab. Sambas, yakni buku lagu “Kaing Lunggi I” dan “Kaing lunggi 2”. Pernah diminta
memimpin / menjadi Kondaktur / Dirigent 16 Kecamatan/grup musik tanjidor pada
ulang tahunperpindahan Ibukota Sambas.
Mengikuti
lokakarya seminar komposisi musik tingkat Nasional di Kaliurang Yogyakarta
dilaksanakan oleh Li turgy music
Jogyakarta tahun 1978.
Disamping
menciptakan lagu, Ende juga pernah menjadi ketua kelompok tani 1981 di dusun
Bangang Kec. Teluk Keramat, pernah memiliki kebun kopi di bangang. Penataran
golongan ekonomi lemah tahun1981 yang diikuti oleh 3 Kecamatan, Sambas,
Sejangkung dan Teluk keramat yang dilaksanakan di dusun Kartiasa kec. Sambas.
Kegiatan musik yang pertama digelar oleh Bulyan Musthafa yakni festival musik
di Galing, Semata Biangsu, Simpang empat.
Instruktur/Pelatih
paduan suara PC. PGRI Kec Pemangkat, ketenaran nama grup paduan suara PC PGRI
Pemangkat memang sudah tidak di ragukan lagi, sejumlah prestasi gemilang telah
berhasi di raih. Uniknya lagi, semua gelar juara tersebut direbut dengan
membawakan lagu ciptaan sang pelatih Bulyan Musthafa yang akrab di sapa
ende’Bul, berturut-turut sebanyak 6 kali sebagai juara pertama:
Sejak tahun 2002 Juara
I di Kec. Sambas membawakan lagu Perahu Jukung
Tahun 2003 Juara I di
Kec. Tebas membawakan lagu Munsem Beranyi
Tahun 2004 Juara I di
Sekura membawakan lagu Munsem Beranyi
Tahun 2005 Juara I di
Pemangkat membawakan lagu Titi Sinabung
Tahun 2007 Juara I di
Jawai membawakan lagu padamu pahlawan
Tahun 2009 di Kec.
Sajingan (Tidak ada paduan suara)
Tahun 2011 Juara I di
Selakau membawakan lagu Kaing Lunggi
Lagu-lagu
karya Bulyan Musthafa lainnya:
Tamasya
ke danau Sebedang, Tikannang urang tue, Kaing lunggi, Untung ade nek aki, Kota
Pemangkat, Ke pe te, TKI dan masi banyak sederetan lagu karya beliau.
Untuk
lagu Anak-anak: Harapan urang tue, Jagelah Kebarsehan, Kasian dienye, Batu
ballah, Cik cik periuk, Ning ninggul, Ujjan, Titi sinabung, Alu’ galing lassung
labban, Perahu jukung, Sukkenye, Malam kannangan, Passan Ne’ Alung.
Dalam
masa-masa jayanya band dikota Sambas dan
Pemangkat terlahirlah nama-nama besar dalam membawakan lagu-lagu daerah. Pada
generasi tersebut, mereka tak berkeinginan bisnis dan sudah senang jika lagunya
di nyanyikan orang. Seniman dari kampung Dagang yang mengubah lirik lagu
diantaranya:
Chairoman
yang mengubah lirik lagu Alun alun yang syairnya berasal dari cerita rakyat
Sambas. Lirik lagu tersebut lahir tahun 1962 ketika bupati Sambas mengirim
Tanda’ Sambas ke Jakarta atas arahan mayor Solo dari Sunda, liriknya
disempurnakan. Namanya semakin tenar setelah alun alun dinyanyikan dan di rekam
Lilies Suryani seorang penyanyi nasional yang lagi tenar pada waktu itu.
Selain
itu Chairoman merupakan penulis syair dari lagu “Dari saing ke tangga ammas”
yang terkenal itu. Chairoman sungguh orang yang luar biasa dan memiliki
keahlian di banyak bidang, misalnya di bidang olah raga beliau menjadi atlet
sepak bola dan badminton. Yang kedua Tom rizal, banyak sekali lagu ciptaannya
diantaranya: Gobar, Rabbas, Sikse, Sah iraukan aku, Salo’, Ribbe, Salah
pengambean, Nasseb badan, Do’a Silamat. Lagu karya Tom rizal lainnya yang
liriknya dirubah dari lagu rakyat (No name) Sambas yang sejak dulu sudah ada,
diantaranyaTiti’ sinabung, Cik cik periok, Nek nongan, Si tumbu-tumbu, Dayang
masser, Batu ballah, Dari saing ke tangga ammas, Ruai, Wak wak ampe’, Pang pang
lyang.
Yang
ketiga adalah A. Malik, lagu ciptaannya : Bantillan, Bujang Nadi dare Nandung,
Urrang innun, Baju merah dan bepanton.
Selain
itu, perlu disebutkan nama Bujang mutassar, yang tidak mencipta lagu sendiri,
namun beliau punyan andil dalam memberi semangat dan menginspirasi temannya,
salah satunya dengan memberikan corak warna pada lagu dayang masser.
Dari
Kecamatan Jawai, diantaranya terdapat nama M. Djohan dengan lagunya yang
terkenal:
- Jawai
- Ibu
- Azan memanggil
- Mars Sekolah
- Hymne Ibu dan Bapak
- Menuai Padi
- Sanggar ria remaja
- Selamat datang
- Penyesalanku
- Ku tak tahu
- Bergembira
- Tenanglah
- Gembira di pantai
Untuk
generasi sekarang dari pemangkat, dikenal nama Abah Ali, Amox Eny selain
memimpin sebuah sanggar/rumah budaya yang diberi nama “Kencane Kuning”, juga
aktif menciptakan lagu-lagu Daerah Sambas. Karya mereka yang terkenal
diantaranya: Betantang mate, Dare Sambas, Senandung perantau, Sambas terigas,
Antar ajung, Salok atiku, Ngape Punggu Salokkan Bulan, Belalle beranyi.
Untuk
lagu Punji kate, Bujang Nadi Dare nandung, Antar pakatan dan Mak miskin
merupakan karya bersama Abah Ali, Amox Eny, dan Lan tarune, satu lagi generasi
muda yang mulai aktif menggarap lagu Daerah sambas, bernama Ahmad adib dari
Kecamatan Sambas.
Sumber Literature : Budaya Sambas
Gemilang Tempo Dulu
0 Response to "Seni Musik Tanjidor di Sambas"
Posting Komentar