Latest News

Sejarah Perang Thai Kong Dan Dam To Kim Dan Bantuan Pangeran Anom



Menurut riwayat, dalam abad ke 17 dimana Sultan Abu Bakar Tajuddin I memegang pemerintah negeri Sambas, disaat itu di Menlardo (Bengkayang) dan Mentrado terdapatlah perusahaan tambang emas kongsi tionghoa, masing-masing Thai Kong (di Lara Lumar) dan Samto Kui di Mentrado. Kongsi ini berpusat di Pemangkat, Seminis dan Sebawai yang kesekian tahun bertambahlah majunya. Persentase dari standar produksi naik berlipat ganda dan begitupun di lapangan pembangunan tidak ketinggalan.

                Dengan demikian keuntungan upeti yang diterima oleh Sultan dari kongsi-kongsi tionghoa itu menjadi bertambah banyak disamping kerajaan Sambas keharumannya memuncak. Sekarang mata-mata dari kerajaan lain mengarahkan sorotan pandangannya ke negeri Sambas yang terkenal dengan tambang emasnya itu.

                Teristimewa para bajak laut yang cukup disegani pada masa itu adalah Datu Tjemerlang, Datu’ Tuma, Datu’ Akub dan lain-lainnya dari negeri Sulu (Filipina) sekitarnya. Didorongnya oleh perasaan tama’, maka bangkitlah hasratnya untuk menyerang negeri Sambas. Akan tetapi keinginan buas itu spontan dingin setelah mengenal keberanian dan keistimewaan Pangeran Anom. Maka gagallah impian Datu’-Datu’ itu. Masa berjalan terus, suasana silih berganti. Akan disesal esok bukanlah hari ini.

                Maka pada akkhir tahun 1792 yang perlu dicatat, maka muncul suatu peristiwa penting antara kongsi Thai Kong dengan kongsi Samto Kui. Kedua belah pihak saling menunggu perintah atasannya untuk saling menyerang. Pertikaian ini disebabkan antara lain: kongsi Samto kui dengan sengaja telah melakukan perbuatan curang, mengambil tempat terpenting kepunyaan kongsi Thai Kong yang banyak mengandung emas. Persengketaan tersebut semakin berkobar dan akhirnya terjadilah perang saudara antara mereka sama mereka. Tetapi perlawanan Samto Kui dapat dikalahkan oleh Thai Kong. Pertempuran berjalan terus karena Samto kui bangkit melawan musuhnya.

                Pada tahun 1792 – 1793 Samto kui bergabung dengan pangeran Anom serta mengikat perjanjian bahwa Samto kui tidak bpleh mendurhakai kepada Raja dan keluarganya. Dalam pertempuran ini dipihak Pangeran Anom yaitu Dato’ Sambo telah gugur ketika mengadakan pembersihan di Monterado. Kepala Dato’ Sambo oleh musuhnya di Menterado itu telah dipanggil dan digantungkan di dalam kelenteng dijadikan Toapekong. Sampai sekarang Toapekong tersebut tempat berhala yang diagungkan terutama hari-hari besar tiba (Cap go me). Sungguhpun kehilangan pahlawan ini, semangat tempur angkatan yang disiplin oleh Pangeran Anom semakin besar dan akhirnya Kong si thai tersebut dapat dikalahkan serta takluk dibawah kekuasaan pangeran Anom. Beberapa tahun kemudian setelah Imam jacoeb mati dibunuh di Banjarmasin, maka muncul seorang ulama besar, putera Sambas asli yang menjadi guru Pangeran Anom pula, yaitu Chatib Ahmad, penyebar dan pengembang Agama Islam yang sangat kenamaan.

Penulis : H. Uray Djalaloeddin Yusuf Dato Ronggo

0 Response to "Sejarah Perang Thai Kong Dan Dam To Kim Dan Bantuan Pangeran Anom"