Latest News

Sejarah Sambas : Asal Mula Kota Balai Pinang


Sementara itu Sejarah Sambas yang empunya cerita kembali menceritakan Pemerintahan Ratu Anom Kusumajuda di kota lama. Sejak timbilnya pertentangan antara Raden Sulaiman dengan pengeran Aria mangkurat maka Negeri Sambas yang lama itu telah menjadi sepi. Terbit penyesalan serta kesedihan baginda Ratu Anom Kusumajuda bahwa harapannya untuk mengembangkan Ibu Negeri Sambas di kota lama itu telah hilang lenyap. Oleh karena itu baginda Raja sekeluarga telah semufakat akan meninggalkan kota lama dan mencari tempat lain yaitu ke sungai barangan di hulu sungai selakau (termasuk dalam wilayah kecamatan Selakau). Tempat tersebut memang sudah menjadi tujuan baginda. Karena sebelum pindah sudah difikirkannya masak-masak bahwa tempat itulah yang kelak akan dibangunnya sebuah Negeri yang baru. Dan Negeri baru itu akhirnya dapat juga dibangunnya dan diberinya nama kota Balai Pinang.

Tidak berapa lama semenjak Ratu Anom pindah ke sungai barangan, akhirnya pangeran Aria mangkurat sekeluarga itupun ikut pindah ke kota balai pinang, karena pangeran Aria mangkurat insyaf akan segala perbuatannya dahulu dan merasa bahwa pemerintahannya tidak diindahkan oleh rakyatnya, sejak itu dia selalu dikate’, demikian bunyi kate’annya “SALAHKAU” SALAHKAU, akhirnya olok-olokkan rakyat ini pun didengar oleh pangeran Aria mangkurat, maka dia pun berang dan diperintahkannya agar kampung ini jangan dinamai dengan kampung SALAHKAU. Karena rakyat tekun kepada petinggi tersebut, maka nama tersebut diganti dengan nama SILAKAU, hingga sekarang ini dan bahasa cinanya “Bentunai” (Rawa-rawa).

Setelah ratu Anom Kusumajuda dan Pangeran Mangkurat wafat, dilantiklah oleh keluarganya untuk menjadi raja puteranya Ratu Anom Kusuma Juda yang bernama Raden Bakut dengan gelar penambahan kota Balai Pinang. Penambahan kota Balai Pinang tersebut kawin dengan raden Mas Ayu Krentiko, puteri dari pangeran Aria mangkurat yang kemudian mendapat seorang anak laki-laki bernama Raden Mas Dungun.

Setelah Penambahan Kota Balai Pinang wafat, diperintahkan oleh Sultan Mohammad Tadjuddin beberapa orang menteri dan kiyai pergi ke kota Balai Pinang untuk menjemput Raden Mas Dungun sekeluarga, supaya dibawa pindah bersama-sama ke Sambas. Oleh Sultan telah disediakan untuk kediamannya yang khusus dan layak baginya, yaitu di kampung TUMO’.

Menurut panggilan sehari-hari Raden Mas Dungun ini adalah Amo’, dan Sultan sendiri pun memanggilnya Amo’. Dan diluar, oleh rakyat, panggil tersebut ialah TU’ AMO’, lalu lama-kelamaan panggilan Raden Mas Dungundari Sultan hingga rakyat, atau dari dalam dan luar Istanarakyat memanggilnya Bang Amo’ panggilan Sultan kepadanya, dan Dato’ Amo’ rakyat memanggilnya. Karena orang Sambas berasal dari delapan penjuru angin, maka bahasanya pun berbagai macam pula yang sukar didapat dan disamakan dengan bahasa daerah lain, kadang-kadang berbicara cepat dan keras seolah-olah bertengkar, demikian juga dengan dato’ Sultan, hanya dikeluarkan TO SOLTAN, demikian pula dengan DATO AMO’ lalu TO AMO’, lama-kelamaan TU’ AMO lalu TO’ MU dan kini jadi TUMO’. Itulah asal mula kampung Tumo’. Diceritakan bahwa TO’ AMO’ ini diserahi pekerjaan untuk mengawasi keluar masuk barang-barang. Dilihatnya diseberang sungai terdapat daratan kosong dan ada lubuknya, barang-barang ditampung dan perahu bongkar muat di daratan tersebut, akhirnya jadilah tempat itu ramai oleh orang yang mau menjual barangnya, jadilah pasar dan hingga kini pasar tersebut berfungsi sebagai pasar besar kota Sambas.

Dilubuk-lubuk tersebut bertambatlah perahu layar besar, terutama perahu layar Bugis, memang ciri-ciri orang Sambas pandai berkelakar dan ‘bergelar’, lubuk tersebut banyak perahu layar dari Bugis, digelarnya lubuk bugis dan kebetulan juga dikampung tersebut banyak keturunan bugis, seperti terkenal orang-orangnya bermarga ‘Daeng’ sampai sekarang ini.

Penulis : H. Uray Djalaloeddin Yusuf Dato Ronggo

0 Response to "Sejarah Sambas : Asal Mula Kota Balai Pinang"