Kapal Inggris bernama Borneo, adalah
kapal besi beroda lambung yang menggunakan mesin tenaga uap, rodanya lambung.
Karena waktu itu kapal-kapal masih belum menggunkan kipas, jadi roda-roda
lambung itu pengganti kipas, dan kipas itu di tengah-tengah kiri kanan kapal
seimbang dengan tempat mesin yang menjalankan kipas-kipas itu, kapal yang
semacam ini biasa disebut Hekwieler.
Menurut ceritanya, kapal borneo itu
masuk ke Sambas terlalu sakal, sebab sampai dikampung sebatu’ sudah mendapat
hambatan dengan kurang dalamnya sungai Sambas kecil disitu, disebabkan muara
sungai seminis menjadi dangkal karena timbunan pasir yang merupakan penghalang
buat lalu lintas, untuk perjalanan yang mudah dan tidak terhalang, seharusnya
menunggu air pasang penuh baru dapat melaluinya.
Tetapi kapten kapal borneo itu orang
baru dan belum berpengalaman dan baru kali ini memasuki singai Sambas kecil, sehingga
terjadilah sebuah malapetaka sewaktu akan kembali ke betawi, kapal borneo itu
terkandas disitu (Kampung Sebatu’) dan pecah haluannya, barang-barang dan para
penumpang serta awak kapal dapat diselamatkan dan dapat kembali ke Betawi
dengan kapal lain.
Kejadian tahun 1815 ini, sampai sekarang
masih dapat dilihat sisa kerangka kapal di desa Sebatu’ Kecamata Sebawi
Kabupaten Sambas. Berkenaan dengan kejadian tersebut, rupanya dari dulu-dulu
sudah ada nyanyian rakyat yang bernada sentimentil:
Sari
borneo namanya kapal
Masuk
ke Sambas terlalu sakal
Kaptennya
bodoh tidak berakal
Sudah
tahu batu masih dilanggar ? 2x
Adalagi nyanyian sentimentil dikalangan
muda mudi yang sedang bergurau:
Si Bujang (Abang Bujang) menyanyi sambil
berpantun:
Cak uncang burung cak
uncang
Ape diguncang dalam
tempurung
Adik dare supankan
bujang
Cacak ke dapur mencium
puntung
(Sekarang diganti
terlantung-lantung)
Lalu Dik dare itu membalas nyanyian itu
sambil berpantun:
Kapal api rodanya
lambung
Naik
sekoci pasang teropong
Bang
bujang jangan nak sombong
Kopiah
mereng kocekkan kosong
Saat ini kalangan muda lebih mengenal
budaya Pop dan modern ketimbang budaya tradisi lokal. Padahal budaya tradisi
penting sebagai akal dari pola berpikir dan pemahaman adat istiadat.
Indonesia memang kaya akan suku dan
budaya. Tapi itu menjadi sia-sia, jika tidak dilestarikan oleh generasi
selanjutnya. Kekayaan budaya itu akan luntur, seiring dengan arus globalisasi
saat ini.
Pemerintah Kabupaten Sambas, melalui
Dinas Pemuda, Olah raga, Kebudayaan dan pariwisata telah berusaha memberikan
pemahaman kepada generasi muda, melalui program Apresiasi dan seni pertunjukan,
Pelatihan tari Nasional dan tari Tradisional, TARBUS (Tarrang bulan di Sambas),
pengadaan alat kesenian tradisional, Festival pelaminan, Festival Musabaqah
Hatam Al-Qur’an dan lain-lain. Program diatas merupakan langkah awal untuk
memberikan pemahaman sekaligus pelestarian budaya, karena pemuda bisa langsung
mengaplikasikannya di dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan pelatihan itu sendiri, selain
memberikan pemahaman tentang budaya dan seni, juga untuk mengurangi perbuatan
negatif generasi muda. Melalui pengenalan budaya dan seni, waktu luang siswa/pemuda
ini diisi dengan hal-hal posotif. Mereka bisa melestarikan budaya daerah
sendiri serta membentuk komunikasi bersama. Semoga saja dengan pemahaman budaya
yang diberikan, nilai-nilai budaya yang ada dapat dilestarikan sehingga
nantinya Kabupaten Sambas layak dinamakan sebagai kota budaya.
Sumber Literature : Budaya Sambas
Gemilang Tempo Dulu
0 Response to "Cerita Tentang Kapal Inggris Bernama Borneo"
Posting Komentar